Rabu, 07 Maret 2012

CONTOH KESAN DAN PESAN DALAM BUKU BUNGA RAMPAI

SOSOK PRIBADI  YANG  SELALU  MEMBERI


Kasmansyah

Hampir tiga puluh satu tahun saya mengenal Pak Zainul Arifin Aliana. Pak Aliana  begitu saya memanggil dan juga  dosen lain, walaupun Aliana  sebenarnya nama orang tua beliau. Selama hampir tiga puluh satu  tahun itu terasa masih seperti kemarin. Saya masih ingat waktu pertama kali mengenal beliau sekitar bulan Agustus 1981. Sebagai dosen baru dan dosen paling muda di Unsri waktu itu, saya dikenalkan Ketua Jurusan Bahasa Indonesia (Drs. A. Djalil) kepada dosen dan mahasiswa di salah satu ruang kelas gedung FKg (depan Penerbit Unsri Palembang sekarang). Dosen-dosen yang dikenalkan kepada saya waktu itu: R.M. Arief, A. Malian Erman, Zainal Abidin Gaffar, Zainal Abidin Gani, Siti Salamah Arifin, Aidy Ruslan Satun,  dan Zainul Arifin Aliana.  Sedangkan mahasiswa yang  dikenalkan kepada saya adalah mahasiswa angkatan Koko Bae, Mardan Waif, Zirziah Eti Riza—usia mereka sama dengan saya bahkan banyak lebih tua dari saya. Seingat saya Zirziah Eti Riza waktu itu pengalaman mengajarnya sudah lebih dari 25 tahun—lebih tua dari usia saya. Terus terang waktu itu saya sangat gugup dan galau, terbayang di benak saya bagaimana susahnya mengajar orang sudah banyak pengalaman mengajar.  Dari sekian banyak dosen yang dikenalkan waktu itu, dengan Pak Aliana dan Ibu Salamah lah saya cepat akrab, bahkan waktu itu saya diajak ke rumah mereka di Lorong Kolam Buki Lama.
Keakraban dengan Pak Aliana dan Ibu Salamah itu berlajut, bahkan saat saya kesulitan mencari rumah kontrakan. Pak Aliana lah yang mencarikan saya rumah bedeng kontrakan. Sekedar kilas balik, waktu itu saya menumpang di rumah kakak sepupu di Komplek Pertamina Plaju. Sebagai dosen muda, gaji saya hanya sebesar Rp34.400,00. Bayangkan,  ongkos becak saja dari dalam komplek Pertamina p.p. Rp600,00, belum lagi naik angkot dari Plaju—Jembatan Ampera, dan dari Ampera—Bukit Besar, sedangkan saya mengajar setiap hari. Waktu itu saya mengajar lebih dari 8 kelas, bahkan pernah 12 kelas, sedangkan dosen-dosen senior banyak mengajar di program diploma yang honornya cukup besar. Saya sering kekurangan uang,  bahkan saya pernah meminjam uang ke fakultas sebesar  Rp10.000,00,  selama tiga hari saya “dipimpong” oleh oknum fakultas, tetap saja tidak dapat pinjaman. Kalau saya masih di Plaju tentu kehidupan saya akan tetap seperti itu. Keluhan saya ingin mencari rumah kontrakan,  secara spontan Pak Aliana menawarkan kepada  saya ada rumah bedeng yang sedang dibangun tidak jauh dari rumahnya, yaitu di seberang SMPP (Sekolah Menengah Persiapan Pembangunan) Palembang—saat ini bernama SMAN 10 Palembang. Hampir setiap sore beliau datang ke rumah bedeng tiga pintu  yang sedang dibangun,  mendesak pemiliknya agar dapat saya tempati.

“Pak Kas,  Ambillah Satu Mata Kuliah Saya di Muhammadiyah”
            Itulah kata-kata Pak Aliana yang sampai sekarang masih terngiang di benak saya, walaupun sudah puluhan tahun berlalu. Kata-kata itu diucapkannya saat suatu sore datang ke bedeng saya. Saat masuk ke ruang tamu, saya persilakan duduk  di atas  karpet plastik—waktu itu hanya itulah yang ada.  Spontan Pak Aliana mengatakan,  “Pak Kas, kalau bisa belilah kursi plastik atau kursi rotan untuk di ruang tamu ini. Tidak enak rasanya kalau ada mahasiswa atau tamu yang  datang”  katanya. Saat itu saya jawab, “bagaimana mau beli kursi Pak, untuk makan saja pas-pasan”.  Spontan dijawabnya,  “Pak Kas,  Ambillah Satu Mata Kuliah Saya di Muhammadiyah  mudah-mudahan dapat membantu."  Untuk diketahui mengajar 4 sks di STKIP Muhammadiah Palembang  waktu itu, sama dengan gaji capeg  sebulan. Barulah bulan depannya saya bisa  membeli kursi rotan di Pasar 16 Ilir bersama Mardan Waif (keponakan pak Aliana—saat ini menjadi dosen dan pejabat di Universitas Muhammadiyah Bengkulu).

Menulis Modul Bersama
            Setelah mengikuti Pelatihan Penulisan Modul PBJJ  P2DK Unsri tahun 1982, saya dan beberapa dosen lain mendapat jatah masing-masing menulis 8 modul. Kira-kira dua minggu sebelum batas akhir penulisan modul habis, ada dosen yang mengundurkan diri menulis modul sesuai jatah yang diberikan Unsri. Kebetulan selama menulis modul PBJJ yang disunting oleh beberapa dosen dari IKIP Bandung (Undang Misdan, Dr. Surya dan lain-lain), tulisan Pak Aliana dan saya yang tidak banyak coretan. Modul-modul yang tidak dapat diselesaikan dosen tersebut diserahkan kepada kami berdua (Pak Aliana dan saya). Yang membuat saya terharu, Pak Aliana melebihkan satu modul untuk saya, padahal sebenarnya seharusnya saya lebih sedikit. Sekedar informasi, menulis satu modul waktu itu sama dengan beberapa kali gaji calon pegawai negeri sebulan.  Pengalaman menulis modul bersama itulah, saya banyak mendapat ilmu dan ketangguhan bekerja—sedikit bicara banyak kerja.

Mengusulkan Menjadi Redaksi Pelaksana Majalah Sriwijaya
            Suatu kali di tahun 1987,  saya dipanggil Pak Aliana dan mengatakan, “Saya usulkan Pak Kas menjadi calon redaksi Majalah Sriwijaya di Pusat Penelitian. Ada dua orang dosen  selain Pak Kas, dari Fakultas Hukum Pak Laurel Heydir, S.H., dan dari Fakultas Ekonomi Pak M.S. Abbas Efendi, S.E. Sebaiknya temuilah Ibu Dr. Zainab Bakir, Ketua Pusat Penelitian Unsri”.  Sebenarnya Pak Aliana yang paling cocok sebagai redaksi di Majalah Sriwijaya, karena tulisan dan hasil penelitiannya cukup baik—bahkan menurut saya mengalahkan tulisan lulusan  S3.   Setelah saya diterima sebagai redaksi pelaksana Majalah Sriwijaya itulah, kemudian saya ditunjuk Rektor Unsri menjadi Kepala Percetakan dan Penerbit Universitas Sriwijaya.

Purnabakti yang Sesungguhnya
            Pak Aliana dan Ibu Salamah yang saya hormati, tidak semua orang dapat   menyelesaikan tugas dengan baik  hingga masa purnabakti. Bapak dan Ibu adalah dosen yang paling disiplin, banyak karya, rendah hati, dan selalu memberi tak harap kembali. Insya-Allah suri teladan yang Bapak dan Ibu tunjukkan selama ini, dapat kami lanjutkan.  Maafkan saya, bila selama ini banyak tingkah laku yang kurang berkenan. Semoga purnabakti ini menjadi purnabakti yang sesungguhnya. Amin. 


_____________
Tulisan ini pernah dimuat dalam buku Pelangi Bahasa dan Sastra: Pengantar Purnabakti Drs. H. Zainul Arifin Aliana, Editor: Kasmansyah, Sofendi, Didi Suhendi, Februari 2012

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar